“Aku ingin lihat bintang dari loteng rumahku. Hanya ingin melihat betapa indah pendar cahayanya. Hanya semata ingin mengingat betapa indah masa kecilku bisa melihat bintang seberapapun jauh jaraknya dari bawah sini.”
“Aku ingin lihat bintang dari loteng rumahku. Hanya sekedar ingin memberitahu diriku sendiri. Bahwa bintang disana sendiri. Sendirian. Bagai terkucilkan teman-teman sesamanya. Yang dilihat kecil oleh mereka yang melihatnya. Tapi nyatanya dia besar. Bahkan lebih besar dari yang bintang itu sadari.”
“Aku ingin lihat bintang dari loteng rumahku. Hanya untuk mengagumi kuatnya dia di atas sana bertahan memberi sinar pada hati siapapun yang sedang perih. Berdiri tegap tanpa peduli siapa yang mau menemani. Mencoba acuh pada halangan yang tidak mengenal dosa di luar sana nanti.”
“Aku ingin lihat bintang dari loteng rumahku. Belajar bangkit dari jatuh karena mereka yang mendorongku ke jurang perlakuan nista yang mereka anggap kesenangan. Tapi bintang tak pernah jatuh. Dia bukan daun, yang rapuh jika disentuh. Yang langsung goyah sesaat diterpa semilir angin.”
“Aku ingin lihat bintang dari loteng rumahku. Hanya demi mengusir rasa sepi. Mencoba mengobati kerinduan pada segala rasa yang telah mati. Namun aku tak ingin melihat bintang itu mati. Nanti siapa yang mau mengobati rasa sepiku jika ia pergi?”
(Source: Spotify)
Di senja tadi, aku tadi duduk di pelataran teras surga. Memandang jauh ke hamparan langit. Tidak hanya ada aku disana, namun ada kami. Entah mengapa rasanya dingin. Tidak hanya dingin, namun agak hampa. Kosong. Mungkin menyedihkan. Namun mereka, senyum mereka, ternyata menjadikan semua ruang kosong tadi menjadi berisi.
Di senja tadi, kami berceloteh syair indah. Syair Tuhan. Syair yang akan terdengar indah jika kau tahu makna di dalamnya. Syair yang selama ini kau anggap sepele dalam hari-harimu, bahkan bisa membuat hatimu bergetar mendengarnya. Syair yang mungkin hanya ingin kau baca, karena yang kau tau hanyalah kau memang harus membacanya.
Di senja tadi, ada dua butir airmata di mata kiri ku. Airmata karunia. Karunia dari Tuhan karena aku berhasil mengikhlaskan segala pedih di hati kuubah menjadi kebahagiaan. Airmata yang menjawab segala pertanyaan yang gundah mengganjal hatiku.
Di senja tadi, aku menitipkan doa. Kutitipkan pada Tuhan untuk kalian yang aku cintai. Kalian semua, para pencipta senyuman di hari-hariku. Kalian yang tak pernah lepas mengingatkan bahwa kita hidup membutuhkan satu sama lain. Kalian yang tak pernah lelah membantuku berdiri dari segala keluh.
Di senja tadi, aku membayangkan kita. Kita semua. Duduk berdampingan penuh kebahagiaan menikmati masa senja kelak. Disana. Di surga kita. Aamiin ya Rabb.